Everything you wished someone had told you about PMOS
Everything you wished someone had told you about PMOS
Whether you're living with it or learning because someone you love does. No medical jargon, no judgement, just honest information about what PMOS actually is and what it does to a person's life
Whether you're living with it or learning because someone you love does. No medical jargon, no judgement, just honest information about what PMOS actually is and what it does to a person's life
MONICA SANTOSO
Melalui karya digitalnya, Monica Santoso menciptakan tokoh-tokoh perempuan yang hidup di antara realitas dan imajinasi. Dengan palet warna yang ekspresif serta komposisi yang berani, ia mengeksplorasi tema identitas, kelembutan, dan kekuatan, menghadirkan setiap karya sebagai sebuah cerita yang terbuka untuk ditafsirkan.
MONICA SANTOSO
Melalui karya digitalnya, Monica Santoso menciptakan tokoh-tokoh perempuan yang hidup di antara realitas dan imajinasi. Dengan palet warna yang ekspresif serta komposisi yang berani, ia mengeksplorasi tema identitas, kelembutan, dan kekuatan, menghadirkan setiap karya sebagai sebuah cerita yang terbuka untuk ditafsirkan.

Carrying the Morning
Karya ini menggambarkan tentang menyambut setiap permulaan. Carrying the Morning mengajak untuk berhenti sejenak, menemukan bahwa kekuatan dapat hadir dalam kelembutan, dan bahwa setiap pagi selalu membawa kemungkinan untuk memulai kembali.
Karya ini menggambarkan tentang menyambut setiap permulaan. Carrying the Morning mengajak untuk berhenti sejenak, menemukan bahwa kekuatan dapat hadir dalam kelembutan, dan bahwa setiap pagi selalu membawa kemungkinan untuk memulai kembali.

Tied on Gently
Dalam karya ini, ukuran pita sengaja dibuat tidak proporsional untuk menggeser perhatian dari wajah menuju simbol. Distorsi tersebut mempertanyakan bagaimana identitas sering kali ditentukan oleh atribut yang melekat pada seseorang, bukan oleh dirinya sendiri. Tied on Gently menjadi refleksi tentang hubungan antara penampilan, ekspektasi sosial, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Dalam karya ini, ukuran pita sengaja dibuat tidak proporsional untuk menggeser perhatian dari wajah menuju simbol. Distorsi tersebut mempertanyakan bagaimana identitas sering kali ditentukan oleh atribut yang melekat pada seseorang, bukan oleh dirinya sendiri. Tied on Gently menjadi refleksi tentang hubungan antara penampilan, ekspektasi sosial, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
MONICA SANTOSO
Melalui karya digitalnya, Monica Santoso menciptakan tokoh-tokoh perempuan yang hidup di antara realitas dan imajinasi. Dengan palet warna yang ekspresif serta komposisi yang berani, ia mengeksplorasi tema identitas, kelembutan, dan kekuatan, menghadirkan setiap karya sebagai sebuah cerita yang terbuka untuk ditafsirkan.
Fildza Ayu Fallasandy
Fildza Ayu is a visual artist who plays somewhere between figurative, nostalgia, and feeling. Inspired by vintage eras and jazz, her work captures soft, personal moments with a gentle yet expressive touch. Creating since 2014—through paintings, illustrations, and playful workshops that invite people to slow down and make something with their hands.


Carrying the Morning
The Shrouded Bloom Phase II
Karya ini menggambarkan tentang menyambut setiap permulaan. Carrying the Morning mengajak untuk berhenti sejenak, menemukan bahwa kekuatan dapat hadir dalam kelembutan, dan bahwa setiap pagi selalu membawa kemungkinan untuk memulai kembali.
Karya ini menggambarkan tentang menyambut setiap permulaan. Carrying the Morning mengajak untuk berhenti sejenak, menemukan bahwa kekuatan dapat hadir dalam kelembutan, dan bahwa setiap pagi selalu membawa kemungkinan untuk memulai kembali.


Tied on Gently
Dalam karya ini, ukuran pita sengaja dibuat tidak proporsional untuk menggeser perhatian dari wajah menuju simbol. Distorsi tersebut mempertanyakan bagaimana identitas sering kali ditentukan oleh atribut yang melekat pada seseorang, bukan oleh dirinya sendiri. Tied on Gently menjadi refleksi tentang hubungan antara penampilan, ekspektasi sosial, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
The Shrouded Bloom adalah eksplorasi visual mengenai tubuh perempuan sebagai ruang negosiasi—antara identitas personal, konstruksi sosial, dan tekanan standar kecantikan yang terus direproduksi. Sosok perempuan dalam karya ini tidak sepenuhnya mengungkapkan dirinya; wajahnya tertutup oleh bunga dan kipas, menciptakan jarak antara keberadaan dan keterlihatan. Gestur menutup wajah dalam karya ini bukan sekadar simbol kerentanan, melainkan strategi bertahan. Ia mencerminkan kondisi di mana banyak perempuan Indonesia tumbuh dalam sistem visual yang menuntut representasi tertentu—kulit, bentuk tubuh, hingga ekspresi diri yang telah distandarisasi dan seringkali tidak berakar pada realitas lokal. Dalam situasi ini, tubuh menjadi sesuatu yang terus dikoreksi, disesuaikan, dan dipertanyakan. Dua fase dalam karya ini menandai pergeseran psikologis yang subtil namun signifikan. Phase I beroperasi dalam wilayah domestik dan internal—fase di mana penyembunyian masih terasa aman, bahkan diperlukan. Sementara itu, Phase II menunjukkan pergeseran menuju ruang yang lebih terbuka, di mana subjek mulai berinteraksi dengan lingkungannya, meskipun tetap dalam kondisi terfragmentasi. Ini bukan transformasi yang linear, melainkan proses yang penuh ambiguitas. Penggunaan elemen dekoratif seperti bunga, kipas, serta pola yang terinspirasi dari tekstil dan ornamen Indonesia berfungsi sebagai bahasa visual yang menegaskan konteks kultural. Elemen-elemen ini tidak hanya memperkaya komposisi, tetapi juga menjadi penanda identitas—menghadirkan ketegangan antara estetika lokal dan standar global yang mendominasi. Dalam kaitannya dengan isu yang diangkat dalam Dara Loka, karya ini bersinggungan dengan pengalaman tubuh perempuan yang dipengaruhi oleh dinamika hormonal—sebuah kondisi yang sering kali tidak terlihat namun berdampak langsung pada persepsi diri. Perubahan fisik dan emosional yang terjadi, termasuk dalam konteks seperti PCOS, memperkuat relasi kompleks antara tubuh, kontrol, dan representasi. Alih-alih menawarkan resolusi, The Shrouded Bloom menempatkan perempuan dalam kondisi “menjadi”—sebuah ruang antara yang tidak sepenuhnya tersembunyi, namun juga belum sepenuhnya bebas. Di situlah ketegangan utama karya ini bekerja: antara keinginan untuk terlihat dan kebutuhan untuk melindungi diri.
Dalam karya ini, ukuran pita sengaja dibuat tidak proporsional untuk menggeser perhatian dari wajah menuju simbol. Distorsi tersebut mempertanyakan bagaimana identitas sering kali ditentukan oleh atribut yang melekat pada seseorang, bukan oleh dirinya sendiri. Tied on Gently menjadi refleksi tentang hubungan antara penampilan, ekspektasi sosial, dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Athaya Mecca
I'm Athaya Mecca, an art student based in Indonesia. My artworks is a representation from my ideas to express my emotions through the creative process. Some of my ideas also came from other people’s experience. I learn the language of human thought and put it into my artworks. I like how people have different perspectives on life and still trying to figure out what the meaning of life is?

Blooming Through the Ache
Seiring berjalannya waktu, hidup mulai terasa asing dan dingin. Kehidupan terus bergerak seolah semuanya dikejar oleh waktu. Semakin beranjak dewasa, semakin berat beban yang harus dibawa. Dunia akan selalu menuntut diri untuk menjadi kuat, melangkah maju, dan menumbuhkan sayap, bahkan ketika punggung kita penuh dengan luka.
Di balik luka-luka yang terpendam, ada sebuah kelembutan yang selalu berjalan menemani setiap langkah. Seorang ibu yang merawat melalui doa-doanya, bagaikan air yang dituangkan dengan lembut ke atas kulit yang terluka. Beliau tak pernah lupa mengirimkan sejuta kebaikan dan membisikkannya di tengah keheningan malam. Menggenggam erat harapan agar luka-luka yang menyakiti kelak akan mekar menjadi versi terbaik dalam diri.

The Shrouded Bloom adalah eksplorasi visual mengenai tubuh perempuan sebagai ruang negosiasi—antara identitas personal, konstruksi sosial, dan tekanan standar kecantikan yang terus direproduksi. Sosok perempuan dalam karya ini tidak sepenuhnya mengungkapkan dirinya; wajahnya tertutup oleh bunga dan kipas, menciptakan jarak antara keberadaan dan keterlihatan. Gestur menutup wajah dalam karya ini bukan sekadar simbol kerentanan, melainkan strategi bertahan. Ia mencerminkan kondisi di mana banyak perempuan Indonesia tumbuh dalam sistem visual yang menuntut representasi tertentu—kulit, bentuk tubuh, hingga ekspresi diri yang telah distandarisasi dan seringkali tidak berakar pada realitas lokal. Dalam situasi ini, tubuh menjadi sesuatu yang terus dikoreksi, disesuaikan, dan dipertanyakan. Dua fase dalam karya ini menandai pergeseran psikologis yang subtil namun signifikan. Phase I beroperasi dalam wilayah domestik dan internal—fase di mana penyembunyian masih terasa aman, bahkan diperlukan. Sementara itu, Phase II menunjukkan pergeseran menuju ruang yang lebih terbuka, di mana subjek mulai berinteraksi dengan lingkungannya, meskipun tetap dalam kondisi terfragmentasi. Ini bukan transformasi yang linear, melainkan proses yang penuh ambiguitas. Penggunaan elemen dekoratif seperti bunga, kipas, serta pola yang terinspirasi dari tekstil dan ornamen Indonesia berfungsi sebagai bahasa visual yang menegaskan konteks kultural. Elemen-elemen ini tidak hanya memperkaya komposisi, tetapi juga menjadi penanda identitas—menghadirkan ketegangan antara estetika lokal dan standar global yang mendominasi. Dalam kaitannya dengan isu yang diangkat dalam Dara Loka, karya ini bersinggungan dengan pengalaman tubuh perempuan yang dipengaruhi oleh dinamika hormonal—sebuah kondisi yang sering kali tidak terlihat namun berdampak langsung pada persepsi diri. Perubahan fisik dan emosional yang terjadi, termasuk dalam konteks seperti PCOS, memperkuat relasi kompleks antara tubuh, kontrol, dan representasi. Alih-alih menawarkan resolusi, The Shrouded Bloom menempatkan perempuan dalam kondisi “menjadi”—sebuah ruang antara yang tidak sepenuhnya tersembunyi, namun juga belum sepenuhnya bebas. Di situlah ketegangan utama karya ini bekerja: antara keinginan untuk terlihat dan kebutuhan untuk melindungi diri.
Jessica Amelia
Berkarir sebagai animation coloring artist, juga sebagai freelance illustrator dan memiliki bisnis kecil. Kini juga aktif di media sosial untuk memberikan edukasi seputar industri animasi Jepang.

Woman and Her Thinking
Wanita adalah makhluk yang sangat kompleks. Perilaku terlihat biasa tetapi isi dalam kepalanya begitu banyak. Sakit, lelah, dan perubahaan hormon dapat merubah seorang wanita luar dalam. Saking banyaknya bisa meletus sewaktu-waktu. Ah... begitu banyaknya yang seorang wanita harus urus.
Christy Permatasari
An emerging floral painter and also a mother of wondrous kids. share gratefulness in this shaping life through her arts. start digging into watercolor while expecting the secondborn, and never fell out of it since then. painting always be the safe zone between pursuing the life. before watercolor, always into doodle and abstract art.

The Light within You
in this moving life, we always have standards. but nevertheless, we standard ourselves based on what people see; what the world want to see. we tend to adjust and forgotten our true self. the fact is, when we shine our light brighter this world must be a better place to live in. at least, we are one of few who start being honest to ourselves. imagine if there’s more like us? imagine if there are many like us? imagine if everyone has their light shining bright for their honesty living life?should this life is full of blooming season. everywhere we go, we are growing together, gracefully.

The Light within Me
in this moving life, we always have standards. but nevertheless, we standard ourselves based on what people see; what the world want to see. we tend to adjust and forgotten our true self. the fact is, when we shine our light brighter this world must be a better place to live in. at least, we are one of few who start being honest to ourselves. imagine if there’s more like us? imagine if there are many like us? imagine if everyone has their light shining bright for their honesty living life?should this life is full of blooming season. everywhere we go, we are growing together, gracefully.
Julia Christie
Interior Designer yang punya passion melukis, dan beberapa kali ikut pameran lukisan.
New Beginning
New Beginning marks the moment a young woman steps into a new season of life. It celebrates growth, independence, and the quiet confidence that comes with embracing womanhood. Every ending opens the door to a new beginning, where dreams grow stronger, purpose becomes clearer, and she begins to flourish as the woman she is meant to be.

Born to Dance
She was never meant to stand still. Born to Dance celebrates a woman who embraces life with grace, courage, and joy Every movement reflects her freedom to be herself, reminding us that the most beautiful dance begins when we stop living for others and start living true to our own hearts.
Being Myself
Being Myself is a woman who finds peace in her own presence. She walks her own path with quiet confidence, embraces the simple joys of life, and no longer seeks validation from the world around her, Her happiness comes from within, reminding us that the greatest freedom is the courage to be ourselves.

The Essence of Her
The Essence of Her is a tribute to the quiet Strength and enduring beauty of womannood. The flowers that veil her eyes symbolize a woman who sees beyond appearances guided by intuition, compassion, and inner wisdom
This painting celebrates the essence of every woman: gentle, powerful, vulnerable forever evolving into the truest version of herself

Soul companion
Soul Companion celebrates the quiet bond between a woman and the spirit that walks beside her. The white horse symbolizes trust, freedom, and unwavering strength, reflecting the journey of womanhood with grace and resilience. Together, they embody a connection beyond words, a reminder that true companionship is found in the souls that encourage us to be fearless, authentic, and free.

Luxury of being me
In a world that constantly encourages us to fit in, the greatest luxury is to remain true to ourselves. Every color represents a story, every layer a lesson. Luxury of Being Me is a celebration of authenticity, the quiet confidence of a woman who no longer seeks approval because she has found her own light.

Proud to be a woman
This picture captures the quit bond between a woman and her most faithful companion, The black cat, often misunderstood, symbolizes loyalty, intuition, and the beauty found beyond appearances,. Together they remind us that true connection is not always spoken, it is dimply felt.
Syafrizal Rasyid Ahmad
Seorang illustrator yang memiliki ketertarikan mendalam pada seni cat air (watercolor). Sebagai seorang watercolor enthusiast, saya senang mengeksplorasi berbagai teknik dan gaya ilustrasi untuk menghasilkan karya yang ekspresif dan penuh karakter. Di luar aktivitas berkarya, saya menikmati menghabiskan waktu bermain bersama kucing, yang menjadi salah satu sumber inspirasi dan kebahagiaannya dalam keseharian.

Perempuan yang Menanggung Tanah
Karya ini merefleksikan pengalaman perempuan Papua yang hidup di tengah diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan. Telapak tangan menjadi simbol kesaksian atas luka yang terus membekas, sementara tubuh perempuan merepresentasikan tanah yang menjadi rumah sekaligus saksi penderitaan. Di balik luka-luka tersebut, tersimpan harapan akan pengakuan terhadap martabat, keamanan, dan hak untuk hidup dengan damai di tanah sendiri.
Dewi Nilan
Dewi Nilan adalah seorang seniman yang mengekspresikan dirinya melalui gaya impresionistik. Proses berkaryanya mengutamakan penggunaan cahaya dan bayangan untuk menampilkan objek, dengan penekanan kuat pada warna guna menciptakan kontras dan keragaman dalam komposisi.

Tenang yang Menjulang
Di tengah riuhnya warna-warni di sekitarnya, bunga biru menjulang tinggi dengan tenang. Seolah menggambarkan keberanian dan jati diri yang tangguh.

Pijar Dalam Gulita
Kontras kuat diantara warna-warni bunga-bunga dan latar belakang yang gelap, melambangkan dualitas kehidupan. Tekstur yang menonjol (impasto) menambah kedinamisan lukisan. Lukisan ini sebagai pengingat bahwa dalam gulita pun, sesuatu yang terang tidak akan tenggelam dan justru mampu membawa pijar yang kuat dan indah terhadap sekitarnya.

The Girl and Her Piano
Gadis yang sedang bermain piano. Dengan nuansa klasik yang menekankan tekstur gelap dan terang. Gaun putih dengan semburat biru yang elegan membuat lukisan semakin harmonis dan terkesan mewah.
Alliya Rahma Heriadi
Alliya Rahma Heriadi adalah mahasiswa Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung yang berfokus pada praktik melukis dan kajian seni visual. Praktiknya mengeksplorasi kedalaman emosional dan gagasan konseptual, dengan pengaruh dari sejarah seni dan psikologi. Karyanya merefleksikan ketertarikan pada kondisi manusia serta potensi ekspresif bentuk visual, khususnya melalui pendekatan figuratif dan eksperimental.

Are you Okay?
Karya ini merupakan sebuah refleksi terhadap makna kehadiran dalam relasi antarmanusia, khususnya dalam konteks tema pameran mengenai perempuan. Are You Okay tidak berangkat dari narasi kekuatan atau perjuangan yang eksplisit, melainkan dari sebuah gestur sederhana yang kerap terlupakan: kesediaan untuk hadir dan bertanya kepada sesama, dalam keadaan apa pun. Melalui karya ini, seniman ingin menegaskan bahwa kehadiran, baik dalam bentuk perhatian, empati, maupun pertanyaan sederhana, memiliki nilai yang setara dengan solusi itu sendiri. Tidak semua persoalan menuntut jawaban; sebagian besar hanya membutuhkan seseorang yang bersedia hadir, mendengarkan, dan memberi ruang tanpa penghakiman. Pemilihan warna ungu sebagai elemen dominan merupakan representasi visual dari kewanitaan, yang dimaknai sebagai perpaduan antara kelembutan dan kedalaman, ketenangan dan intensitas emosional. Warna ini menjadi simbol dari kompleksitas perempuan yang mampu menampilkan kerapuhan sekaligus kekuatan secara bersamaan. Secara keseluruhan, Are You Okay mengajak audiens untuk merenungkan kembali pentingnya kehadiran dan kepedulian terhadap sesama, serta menegaskan bahwa perempuan, dalam berbagai peran dan bebannya, senantiasa memiliki ruang untuk didengar dan dipahami.
Malikia Deliawan
Malikia Deliawan adalah perupa berbasis di Pamulang, Tangerang Selatan yang senang memadukan berbagai warna dalam berkarya. Karya-karya Malikia berpusat pada eksplorasi keberagaman agama, budaya, spiritualitas, perjuangan, dan semacam nya. Lewat watercolor dan pensil warna diatas kertas, Malikia berusaha menciptakan sesuatu yang tidak hanya bermakna tetapi juga memanjakan mata.

Beautiful chaos within her
Karya ini menggambarkan semesta di dalam tubuh perempuan yang digerakkan oleh 4 elemen inti: otak, hormon, metabolisme, rahim, dan bagaimana perempuan harus bertarung dalam rumitnya perputaran hormon, siklus bulanan, hingga kerentan terhadap penyakit. Namun, didalam kerumitan itu pula dapat tercipta sumber-sumber kehidupan dan harapan.
O'ok Suyantoko
Ook Suyantoko adalah ilustrator independen asal Tangerang, Indonesia, dibalik brand Pikiran Gambar, yang berfokus pada ilustrasi bergaya kartun dengan sentuhan nostalgia. Perjalanannya sebagai ilustrator dimulai sejak masa kuliah pada tahun 2004, sebelum kemudian berkarier selama lebih dari 16 tahun di bidang Human Resources dan tetap menekuni dunia ilustrasi sebagai freelancer hingga kini. Karya-karya Ook banyak terinspirasi oleh kehidupan sehari-hari, budaya populer, komik klasik Amerika dan Eropa, serta kenangan masa kecil. Gaya visualnya memadukan karakter yang ekspresif, humor, dan nuansa vintage untuk menghadirkan cerita yang hangat dan mudah diterima berbagai kalangan. Sepanjang kariernya, Ook telah berkolaborasi dengan penerbit, agensi kreatif, media, dan berbagai klien lokal maupun internasional. Selain mengerjakan ilustrasi editorial, buku anak, dan proyek komersial, ia juga senang bereksplorasi melalui media tradisional melalui oil pastels dan cat akrilik yang tertuang pada karya-karya pribadinya.

Lipstick Voice
Lipstick Voice adalah sebuah karya yang merayakan keberanian perempuan untuk bersuara. Melalui representasi perempuan dari berbagai ras, agama, usia, dan latar belakang, karya ini mengangkat spektrum emosi yang mereka alami: kegembiraan, kemarahan, harapan, kesedihan, cinta, hingga perlawanan. Lipstik menjadi simbol ekspresi dan identitas, sementara suara merepresentasikan hak setiap perempuan untuk didengar tanpa dibatasi oleh stereotip maupun diskriminasi. Lipstick Voice mengajak kita menyadari bahwa setiap suara perempuan memiliki nilai, makna, dan kekuatan untuk menginspirasi perubahan, serta bahwa keberagaman pengalaman mereka justru membentuk harmoni yang layak mendapat ruang di tengah masyarakat.
Salsha Dikha Prasetia
Hi I’m Salsa Dikha Prasetia I am a Craft Textile and Fashion student with a deep passion for the intersection of art, material exploration, and storytelling. My work thrives on tactile techniques, playful textures, and rich handcrafting, translating complex emotions and narratives into unique wearable forms.

Puspa
A handcrafted wearable art piece meticulously created through a mix technique approach of tapestry, crochet, and freeform macrame. Like a living tapestry of puspa in full bloom, this piece celebrates the multifaceted essence of the dara. Every loop and stitch of this intricate crochet tells a story of reclamation, where diverse threads entwine to honor the profound beauty found within our differences. It is a celebration of playfulness and joy, standardizing a new form of grace that does not seek flawless lines, but instead embraces every raw edge and imperfection as a mark of authenticity. Through these layered textures, feminism is worn not as an armor, but as a blooming, unapologetic expression of self love and collective strength.
Shafiqa Ramadhani
Lilium Puspita
Menggunakan kata "Puspita" yang lekat dengan nuansa sastra Indonesia, karya ini mengibaratkan wanita Indonesia sebagai sekuntum bunga Lily yang merekah anggun (Lilium). Kontras antara keindahan floral dan ketegasan busana diwujudkan lewat pemilihan material kulit sintetis putih. Tekstur semi-matte
dari kulit sintetis ini memberikan kesan mewah dan presisi pada potongan laser-cut di bagian bawah rok, menyimbolkan karakter wanita Indonesia modern yang berprinsip kuat, berani,
namun tetap memancarkan keanggunan yang berkelas.